Laman

Jumat, 10 Februari 2012

Timun Mas


Cerita Rakyat Jawa Tengah
 

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.

suami   :”ya tuhan beri lah hamba mu ini seorang anak jika tidak ya sudah lah”(Setiap hari) .. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.
Raksasa           :”hey, kamu mau punya anak..?”
suami               :”yam mau..mau mauuu bangeeet.”
Raksasa           :“Kalo gtu tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,”
Suami              :“Terima kasih, Raksasa,”
.Raksasa          : “Tapi ada syaratnya. Kamu followback twitter aku dulu yah dan Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,”
.istri                 :”ya aku setuju-setuju..”
Suami              :”tapi ma..?”
istri                  :”ahh papa diem ajja apa si susah nya Follow twitter raksasa..?
suami               :”susah tu..papa kan gax ada pulsaaa(iklan Telkomsel)..”
istri                  ;”aah gax peduli pokoke akoke maoe anake”

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin.
istri                  :”pa..pa..ayo kesini !”
suami               :”ada apa ma..?papa lagi sibuk online nih”
istri                  :”iisstt,Offline dulu donk penting nii h !”
suami               :”huuh, padahal lagi asik chatingan ama putri imut beh… :’( “
istri                  :”iii papa nih”
(suami keluar dari kamarnya)
suami               :”wah..mentimun apa’an nih..?”(mulut ternganga dan mengeluarkan liur)
istri                  ;”anehkan pa..?
Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu.
Suami              :”innalilahi roji’un”
istri                  :”astagfirullah kali pa”
suami               :”ya itu dia maksud papa”
istri                  :”hmm, alhamdulilah ternyata benar apa yang dikatakan raksasa itu”
Suami              :”iya bener,hehe emg raksasa apa..?”(Muke bodo).
Istri                  :”hah,mati yak lah pak’e”
suami               :”hehe, ya udh lh gax usah di bahas yang penting skrang kita punya anak”
Istri-suami       :”kita punya anak..kita punya anak..kita punya anak”(berjoget)
Suami              :”eh wait,,wait ,,wait kita belum kasi anak ini nama”
istri                  :”mama puny aide bagaimana kalo’ kite beri nama anak kita Timun mas”
suami               :”karena dia lahir dari timun bukan P*Pe*” sakin senang nya mereka mengundang dangdut keliling untuk merayakannya.
Tahun demi tahun berlalu.sekarang umur Timun Mas 9 tahun dan dia sedang bermain.
kelompok 1     :”saya orang miskin”
klmpok 2 (timun):”saya orang kaya”
kelompok 1     :”saya minta anak !”
kelompok 2     :”namanya siapa..?”
kelompok 1     :”namanya Marfu’ah”

Bertahun-tahun kemudian ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu takut tapi dia mencoba tenang
suami               : “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang Pacaran. Istriku akan memanggilnya,”
Pcr timun mas :”yang manis di dunia ini Cuma ada 3”
timun mas        :”apa aja tu mas..?”
pcr                   :”madu,gula,dan kamu”
timun mas        :”oow so sweat”
 istri                 :“Anakkku,(mak datang dari jauh)
timus mas        :”ngape mak..?”
istri                  :” timun ambillah ini,”(sambil menyerahkan sebuah kantung kresek). “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,”
timus mas        :”ha ..?raksasa?hari gene..?”
istri                  :”beneran nak..”
karena tak mau jadi durhaka kepada ibu seperti malin kundang Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa.
Raksasa           :”haduuh, lama bener anak mu pacaran aku sudah nggx sabar nih”
Suami              :”sabar sebentar abang raksasa, mkan pisang goreng dulu yah”
Raksasa           :”tidaak ! aku tak makan pisang goreng tapi aku makan timun mas panggang di tambah sambel mmm enak tuh”(mengeluarkan lidahnya).
Suami(petani)  :”ha..?”takut sambil menelan air liur)
Raksasa           :”aahhh kelama’an pasti kalian menipu ku…ku hancur kan pondok ini hiya..hiya”  

Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat.
Timun Mas      :”aduh gimana ni..? oo iya ini bisa di gunakan”(mengambil segenggam garam . Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya.
Timun Mas :”yaa ampun cepat banget ni raksasa ,aku harus kembali mengambil benda ajaib dari kantungku. Raksasa Rasakan ini cabai Indofood..!!” Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa.
 Raksasa          :”aw..aw..aw(AW rumah mkan) berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.

Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.

Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

4 komentar: