Laman

Kamis, 09 Januari 2014

LUTUNG KASARUNG (DRAMA HUMOR)


Alkisah, di sebuah kerajaan di tanah Jawa tempo doeloe, hampirlah berlangsung upacara penyerahan Tahta. Raja Tapa Agung merasa cukup uzur untuk memimpin kerajaannya.
EPISODE 1
1. Raja TA : “Aku merasa sudah cukup tua untuk mengurus kerajaan ini. Aku merasa tidak sanggup lagi.
2. Patih : “Raja masih kuat. Raja masih strong. Raja masih ROSA! ROSA!” (kaya iklan Kuku Bima)
3. Raja TA : “Aku sudah mumet memikirkan konflik antara KPK (Komisi Pengamanan Kerajaan) dan FPB (Front Pasukan Berkuda)”.
4. Patih : “Walaupun kasus itu berlarut-larut, jangan membuat Baginda Raja putus asa… Jangan menyerah… Jangan menyerah” (Kaya lagune D’Massive)
5. Raja TA : “Patih, aku tidak memiliki anak laki-laki. Aku memiliki 2 anak putri. Antara Purbararang dan Purbasari, siapa yang pantas yang bisa kuhandalkan, bukan rayuan bukan pujian”
6. Patih : “Tak ada keraguan saya untuk menjawab. Tentu saja Putri Purbasari, dia selalu juara satu di kelasnya, dia juga pandai memasak, dan tidak suka pacaran.
7. Raja : “Kalau putriku Purbararas?”
8. Patih : “Kalau Putri Purbararas, menghawatirkan sekali, sepanjang hari hanya on line, fesbukan terus sepanjang hari. Suka gonta-ganti cowok”
9. Raja : “Okelah kalo beg.. beg.. begitu Patih, panggilkan semua pejabat kerajaan, hari ini juga akan kulangsungkan upacara penyerahan tahta”
Menteri woro-woro mengumumkan ke seluruh penjuru kerajaan.
10. Menwor : “Woro-woro, diumumkan kepada semua pejabat kerajaan. Diharapakan segera memasuki ruang inti Istana Kerajaan! Secepatnya! Tinggalkan segala bentuk On Line! Segeralah! Segeralah!”
11. Raja TA : “Para Pejabat kerajaan yang berbahagia, hari ini aku akan meletakkan tahta kerajaan. Karena … Aku tak sangguuup lagi….” (lagunya ST 12)
12. Patih : “Karena ini adalah keinginan Raja dar hati yang paling dalam, saya harap semuanya memakluminya”
13. Menwor : “Putri Purbasari diharapkan segera mempersiapkan tempat yang telah disediakan”
(semua bengong, karena yang dipanggil adalah Putri Purbasari, bukan Purbararang)
14. Purbasari : “Ayahanda, mengapa saya yang dipanggil, bukannya Mbakyu Purbararang?”
15. Raja TA : “Karena menurut pendapatku dan Patih, kamulah yang layak emnjadi raja, bukan Kakakmu. Ananda, apakah kamu sipa menerima tahta dari Ayahanda?”
16. Purbasari : “IYa Ayahanda, Okelah kalo begitu”
17. Menwor : “Upacara penyerahan tahta akan segera dilaksanakan, Paduka Raja dan Putri di mohon segera mempersiapkan diri”
Upacara penyerahan tahta segera dilangsungkan. Semua rakyat bersorak sorai atas upacara penyerahan tahta tersebut
18. Purbararang : “Hentikan!! Apa-apaan ini? Ayah, kenapa si kecil ini yang menerima tahta, bukan aku. Ayah tidak adil, seharusnya anak pertamalah yang berhak memakai mahkota itu!”
19. Raja TA : “Tidak begitu anakku”
20. Purbararang : “Kerajaan ini pasti akan mendapatkan kutukan, karena tidak menjalankan aturan sebagaimana mestinya.”
21. Purbasari ; “ Iya, ayahanda, seharusnya kakaklah yang menerima tahta ini, bukan aku. Kakaklah yang pantas”
22. Raja TA : “Justru karena kemuliaan hatimu itu aku memilihmu anakku. Kau pasti akan menjadi pemimpin yang baik dan dicintai oleh rakyat nak”
23. Purbasari : “Terima kasih Ayah, ayah terlalu memuji, saya khawatir ayah akan kecewa jika nanti saya tidak sesuai dengan harapan ayah”
24. Purbararang : “Tunggu saj!! Pasti akan tiba saatnya, akan datang kutukan pada kerajaan ini!!”
EPISODE 2
Purbararang mengajak tunangannya Pangeran Indrajaya menemui dukun pellet number wahid Ni Ronde untuk menyingkirkan Purbasari.
25. Purbararang : ‘Kangmas, aku sudah muak dengan Purbasari, aku akan buat perhitungan dengannya”
26. P Ind : “Buat perhitungan? Kamu kan kalah pinter daripada dia?? Masa mau buat perhitungan, jangankan perkalian, tambah-tambahan saja kamu kalah”
27. Purbararang : “Ganteng tapi oon, maksudku, aku akan membuat Purbasari sengsara. Akan ku buat dia menderita”
28. P Ind : “Bagaimana caranya? Kamu ini jangan seperti itu to, sama adik sendiri kok mentolo?”
29. Purbararas : “Salah dia sendiri jadi penggantinya ayah”
30. P Ind : “terus??”
31. Purbararas : “makanya aku ajak kamu kesini”
32. P Ind : “Rumah siapa ini?”
33. Purbararas : “Ni Ronde”
34. P Ind : “Ooo, mau beli wedang ronde saja kok jauh-jauh kesini. Dekat dalan anyar sana kan ada”
35. Purbararas : “Huss, jaga mulutmu, ini rumahnya Ni Ronde, dukun ampuh yang kondang kaloka yang mampu mengatasi segala masalah”
36. P Ind : “Mau cari buntutan?” (ujug-ujug mak bedunduk NI Ronde muncul dengan membawa laptop)
37. Ni Ronde ; “Siapa yang ngomong ngawur tadi?”
38. Purbararas : “maafkan kami mbah, ini calon suami saya, tidak bermaksud menyepelekan Mbah”
39. Ni Ronde : “Hati hati anak muda! Jaga bicaramu! Mulutmu harimaumu!”
40. P Ind : “Nyuwun pangapunten Mbah Rondo, eh Mbah Ronde”
41. Purbararas : “kami kesini mau anu mbah…”
42. Ni ronde : “Aku sudah tahu”
43. Purbararas : ‘Wah, hebat sekali Mbah ini, aku belum bilang apa-apa sudah tau… Wah hebat sekali!!!”
44. Ni Ronde : “Ya jelas, kalian kesini pasti mau anu. Masalahnya, anunya itu apa?”
45. Purbararas : “begini Mbah……” (tampak Purbararas cerita panjang lebar kepada Ni Ronde)
46. Ni Ronde : “Ooooo, gampaang.” (Ni Ronde membuka Laptopnya)
47. P Ind : “apa itu Mbah?”
48. NI Ronde : “katrok, barang kaya gini saja tidak tahu. Jadi anak muda mbok jangan gaptek, yang sudah tua saja tahu kok”
49. Purbararas : “apa bisa Mbah?”
50. Ni Ronde : “Seiring dengan kemajuan jaman, perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi, Dunia perdukunan tidak boleh ketinggalan jaman. Juistru dengan ini, mantarku bisa lebih update”
51. Purbararas : “terserah Mbah saja, bagaimana enaknya”
(NI Ronde tam[pak ngutak-atik laptop dan mak booom)
EPISODE 3
PURBASARI bangun dari tidurnya
52. Purbasari : “TIDAAAAAAK….” (Wajah Purbasari bentol-bentol tak karuan, terjadi kepanikan di keluarga kerajaan. Raja nampak mondar-mandir melihat kejadian aneh menimpa putrinya. Semua pejabat Kerajaan berkumpul)
53. Raja : “Ada apa dengan wajahmu putriku? Padahal selama ini kamu tidak alergi denganapapun. Apa mungkin, kamu salah make up?”
54. Purbasari : “Tidak Ayahanda. Aku juga tidak tahu”
55. Purbararas : “ Pasti ini kutukan. Iya, kutukan, karena Ayahanda tidak mengindahkan peringatan saya kemarin”
56. Raja : “bagaimana Patih?”
57. Patih : “maaf baginda, saya juga tidak tahu. Gerangan apa yang membuat Tuan Putri seperti ini”
58. Purbararas : “kalau tidak segera ditindak lanjuti, ini bisa menimbulkan aib dalam kerajaan ini, dan bisa menyebabkan keruntuhan. Karena kerajaan ini dipimpin oleh seseorang yang buruk rupa. APA KATA DUNIA??”
59. Raja : “Terus?”
60. Purbararas : “Satu-satunya cara hanyalah, ayah harus mencabut keputusan kemarin dan menyerahkan tahta kerajaan ini kepadaku”
61. Raja TA : “Bagaimana Patih?”
62. Patih : “Mungkin itu jalan yang terbaik”
63. Raja TA : “bagaimana dengan Purbasari?”
64. P Ind : “Kalau kita biarkan Putri Purbasari tetap berada di dalam istana ini, bisa-bisa semua keluarga kerajaan dan rakyat tertular virus mematikan yang belum ada antivirusnya itu”
65. Purbararas : “Mungkin, dia terkena flu burung, atau mungkin flu babi…Jadi, kita bakar saja dia”
66. Patih : “Itu terlalu keji. Mungkin, kita bawa dia ketempat yang jauh dari pemukiman penduduk”
67. P Ind : “Diasingkan??”
68. Purbararas : “Yah, keputusan yang bagus, aku juga kasihan sama dia. Masih muda tapi penyakitan. Makanya, mandi setiap hari…”
69. Purbasari : “Ayaah…..’ (menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya)
Purbasari kemudian diasingkan ke hutan. Dia diantar oleh Sang Patih. Patih dengan baik hati membuatkan gubuk kecil untuk tempat bereteduh Paaurbasari.
EPISODE 4
70. Patih : “Tuan Putri, maafkan saya, saya tidak bisa berbuat banyak, dan hanya inilah yang dapat saya lakukan untuk membantu Tuan Putri”
71. Purbasari : “Ini semua sudah lebih dari cukup Patih. Terima kasih atas semuanya”
72. Patih : “Tuan Putri, ijinkan saya untuk kembali ke istana. Karena dikejar deadline”
73. Purbasari : “Silahkan Patih”
Patih meninggalkan Purbasari sendirian, awalnya dia merasa kesepian. Waktu berlalu dan berjalan. Dia semakin krasan di hutan itu. Dia memiliki banyak teman, tetapi bukan manusia, tetapi bangsa binatang. Di kerajaan, Purbararas memerintah kerajaan denagn sangat angkuh. Raja TA semakin tua dan sakit-sakitan merasakan penderitaan Putri tercintanya, Purbasari.
Di tempat lain, tepatnya di kahayangan. Ada seorang Dewa muda yang tampan yang bernama Guru Minda telah melakukan kesalahan sehingga dikutuk turun ke bumi oleh Dewa senior. Tetapi tidak dalam wujud manusia, yaitu dalam wujud Lutung. Yang kemudian dipanggil si Utung.
Si Utung bergelayutan kesana-kemari. Hingga pada suatu hari, dia melihat seorang Putri yang tidak begitu cantik sedang mandi di sungai. Dia ngintip.
Waktu Purbasari mandi, selendangnya dicuri Si Utung.
74. Purbasari : “Aduh, siapa ya yang mau mengambilkan selendang itu. Si ikan, dia mana mungkin bisa. Toloong, toloong. Siapa yang mencuri selendangku? Ngaku aja lah. Lagian siapa manusia yang mau menghuni hutan ini kecuali aku. Sayembara-sayembara, siapa yang mengembalikan selendangku, kalau perempuan akan kujadikan saudara, kalau laki-laki, akan kujadikan suami”
Ceritanya jadi ngelantur nich, kok kaya Jaka Tarub aja. Ya udahlah, kita saksikan saja cerita berikutnya.
Tiba-tiba, Si Utung mengembalikan selendang Purbasari.
Waktu berlalu, hubungan antara Purbasari dan si Utung semakin akrab.
Sementara itu, di kerajaan ke angkara murkaan semakin meraja lela. Purbararas semakin bertindak sewenang-wenang. Semua rakyatnya hanya fesbukan sepanjang hari, karena diberlakukan tariff gratis. Pornografi pun merajalela. Kafe mesum berdiri dimana-mana. Semuanya jadi kacau balau. Hal ini menimbulakn kecemasan di hati mantan raja Tapa Agung.
75. Raja TA : “Patih, aku semakin tak mengerti dengan semua yang telah dilakukan oleh Purbararas, kerajaan jadi kacau balau. Oh iya Patih, kamu sudah menjenguk Purbasari belum?”
76. Patih : “Belum Baginda, sejak 2,5 tahun yang lalu”
77. Raja Ta : “Tolong kamu jenguk dia, mungkin dia membutuhkan bantuan”
78. Patih : “Kapan Baginda?”
79. Raja TA : “Tahun depan! Ya sekarang! Dan, bawa pulang”
(akhirnya Patih pun berangkat menjenguk Purbasari.) Sementara itu ada kejadian tak terduga terjadi di hutan, saat putri mengurai rambutnya. Yang akan segera mandi.
80. Si Utung : “Kasihan sekali gadis itu, ia pasti sangat cantik jika kulitnya tidak bentol-bentol seperti itu. Dan sepertinya, ada yang tidak wajar pada penyakit gadis ini. Aku harus menolongnya”
(Purbasari kemudian menuju sungai untuk mandi, tiba-tiba terdengar suara dari langit)
“Purbasari, sebelum kamu mengerjakan apapun, berdoalah. Sebelum kamu makan, berdoalah. Sebelum kamu bekerja, berdoalah. Sekarang kamu mau mandi, berdoalah. Semoga itu bisa menyembuhkan semua penyakitmu” (Purbasari mencoba mencari darimana asal suara itu, kemudian dia memulai mendi dengan membaca….
81. Purbasari : “Bismillahirrohmaannirrokhim”
Akhirnya keajaiban pun dating, semua bentol-bentol di kulit Purbasari pun amblas, lenyap tiada tersisa… Kecantikan pun terpancar
82. Purbasari : “Alhamdulillah… terima kasih Tuhan…” (kemudian dia menemui Si Utung dan bercanda bersama sebagai wujud rasa syukurnya). Dari kejauhan nampak Patih datang. Patih pun terkejut melihat penampilan baru dari Purbasari.
83. Patih : “Tuan Putri….?? Tuan Putri sudah sembuh sekarang. Tuan Putri cantik sekali hari ini”
84. Purbasari : “Iya Patih. By the way, ada urusan apa Patih datang kesini? Apakah keadaan ayah baik-baik saja? Apakah kedaan kerajaan juga baik-baik saja?”
85. Patih : “Saya datang kesini atas perintah dari Ayahanda Tuan Putri. Beliau sakit-sakitan, beliau sangat mencemaskan Tuan Putri, semenjak Tuan Putri diusir dari kerajaan, beliau sakit-sakitan. Keadaan kerajaan pun kacau balau”
86. Purbasari : “Terus?”
87. Patih : “Baginda berharap, Tuan Putri berkenan untuk kembali lagi ke istana”
88. Purbasari : “Apakah mereka akan menerimaku, terutama kakakku. Sebenarnya aku kerasan disini. Aku juga banyak teman disini. Tetapi, aku kangen banget dengan sate ayam kerajaan. Okelah, aku akan ikut pulang ke istana”
Si Utung pun tertunduk lesu mendengarkan kalimat itu. Dia merasa kecewa.
89. Purbasari : “Kenaap Tung? Kamu kecewa denganku? Tenang, aku akan mengajakmu ke istana. Aku dulu pernah berjanji, siapapun yang mengembalikan selendangku, akan kujadikan pendamping hidupku. Akan kupenuhi janji itu.”
Akhirnya mereka bertiga kembali ke istana. Semua penghuni kerajaan bersorak sorai melihat kepulangan Putri Purbasari dari hutanb belantara.
90. Patih

Putri Purbararang kwawatir posisinya akan terancam. Ia tahu bahwa sebagian besar pejabat istana dan juga warga tidak menyukainya. Mereka dengan senang hati pasti akan memintanya mundur untuk digantikan adiknya. Setelah berpikir sangat keras, akhirnya putri Purbararang meminta untuk diadakan sayembara. Pemenangnya akan menerima tampuk kerajaan sedangkan yang kalah harus dihukum pancung. Prabu Tapa Agung
menyetujuinya. Ia yakin putri bungsunya dapat memenangkan pertandingan. Meskipun begitu, prabu Tapak Agung juga berdoa meminta Tuhan untuk melindungi putri Purbasari. Putri Purbasari termenung mendengar tantangan kakaknya. Ia tahu kakaknya pasti akan menghalalkan segala cara untuk menang.
“Jangan khawatir putri. Kan ada aku!”
Si Utung memberikan semangat. Tibalah hari perlombaan. Kedua putri telah siap berhadapan. Perlombaan pertama adalah memasak. Peraturannya adalah: Masakan yang paling cepat disajikan dan paling lezat adalah yang menang. Dari awal sudah terlihat bahwa kekuatan mereka tidak seimbang. Putri Purbararang dibantu puluhan juru masak istana sementara putri Purbasari hanya ditemani si Utun. Diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun si Utung meminta bantuan para bidadari untuk membantu ia dan putri Purbasari. Setelah tanda mulai dibunyikan semua mulai bekerja. Para juru masak yang sudah terbiasa menghidangkan makanan-makanan lezat bekerja sangat cepat. Dalam setengah jam saja hidangan lengkap sudah hampir selesai. Yang mengejutkan adalah putri Purbasari. Meskipun hanya berdua, kecepatan kerja mereka tidak kalah dengan kubu kakaknya. Bahkan hidangan mereka telah siap dihidangkan sebelum setengah jam. Hanya Utung yang matanya bisa melihat puluhan bidadari ikut memotong, mengupas dan meniup api supaya pekerjaan putri Purbasari cepat rampung. Seorang bidadari menaburkan bumbu rahasia kahyangan yang akan melezatkan masakan hingga rasanya tiada tara. Para juri memutuskan putri Purbasari yang memenangkan babak pertama. Putri Purbararang dengan murka segera memecat semua juru masaknya. Merasa tidak puas dengan hasil penilaian juri. Putri Purbararang mengganti semua juri untuk perlombaan babak kedua yaitu panjang rambut.
“Hah, sejak kecil rambutku selalu lebih panjang daripada rambutnya. Awas Purbasari! Kali ini habislah kau!”
Hatinya gemuruh penuh percaya diri. Pertama para pelayan mengurai rambut putri Purbararang dan mengukurnya. “Pas selutut!” teriak pengukur. Rakyat saling bergumam. Sebagian besar mereka mengharapkan kemenangan putri Purbasari. Giliran putri Purbasari yang mengurai rambutnya. Semua menahan nafas ketika pelayan mengukur rambutnya yang berkilau.
“Semata kaki!”
teiaknya lagi. Rakyat bersorai sementara putri Purbararang memerah mukanya. Karena tinggi putri Purbararang dan putri Purbasari sama maka juri menyatakan putri Purbasari kembali menang. Putri Purbararang melemparkan sisirnya dengan kesal. Seharusnya pemenangnya sudah pasti yaitu putri Purbasari. Tapi putri Purbararang berkeras untuk tetap melaksanakan perlombaan ketiga.
“Seorang ratu haruslah memiliki pasangan yang bisa dibanggakan,”
ujarnya seraya melirik pangeran Indrajaya.
“Apa kata Negara tetangga jika suami ratu buruk rupanya.”
Putri Purbasari memerah. Ia tersinggung mendengar sahabatnya dihina. Si Utung menenangkannya.
“Sabar putri! Biarkan ia bahagia sejenak. Nanti kita lihat apakah setelah ini ia bisa tertawa,”
ujarnya. Putri Purbasari berusaha tenang meskipun ia tetap khawatir. Karena lomba ketiga ini adalah menentukan pasangan siapakah yang paling gagah dan tampan. Sudah jelas putri Purbararang ada di atas angin. Pangeran Indrajaya memang sangat gagah dan tampan. Sedangkan putri Purbasari tidak memiliki
pasangan. Selain si Utung tentunya, yang selalu setia menemaninya. Tapi haruskah ia mengakuinya sebagai pasangannya?
“Hei Purbasari, kali ini kau kalah! Semua pasti setuju kalau pasanganku jauuuuh lebih tampan dibanding lutungmu itu hahaha…!”
Putri Purbararang tertawa geli hingga keluar air mata. Tak seorang pun yang ikut tertawa bersamanya. Rakyat tertunduk sedih membayangkan kejadian buruk yang akan menimpa putri Purbasari.
“Tunggu!”
Sebuah suara menghentikan tawa putri Purbararang. Semua mencari asal suara tersebut. Utung berdiri tegak di kedua kakinya. Bulu-bulunya yang hitam dan lebat berkibar ditiup angin. Kelihatannya lucu, tapi tidak ada yang tertawa. Rakyat semakin sedih melihat penampilan si Utung. Dengan tenang Utung menatap putri Purbasari yang juga menatapnya dengan penasaran.
“Putri aku sudah berjanji untuk selalu menolongmu. Tapi kali ini aku tidak bisa menolongmu kecuali....” Utung menggantung kalimatnya.
“Kecuali apa Tung?”
tanya putri Purbasari.
“Kecuali putri menerimaku sebagai pasangan sejatimu!”
Rakyat bergemuruh tidak setuju. Putri Purbararang semakin terkikik geli. Putri Purbasari dengan tenang tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Tidak ada yang lebih pantas menjadi pasanganku selain kamu Tung. Di saat semua memalingkan muka karena jijik melihatku, kau satu-satunya yang mau menemaniku.”
BLARR! Petir menggelegar di siang bolong. Putri Purbasari terpekik histeris. Sontak semua memandang ngeri ke tempat Utung berdiri. Petir itu menyambar tepat ke badan Utung yang langsung dipenuhi asap. Putri masih menjerit-jerit dan menangis berusaha menembus asap tebal yang membungkus Utung, ia terbatuk-batuk. Keajaiban terjadi saat asap tebal perlahan-lahan menipis. Di tempat itu, berdirilah seorang pemuda yang ketampanan dan kegagahannya sulit dilukiskan kata-kata. Rakyat terpana. Putri Purbararang ternganga lebar. Putri Purbasari menatap bingung. Ia masih mencari-sisa-sisa tubuh si Utung. Mana mungkin lenyap begitu saja.
“Siapa yang kau cari putri?”
tanya pemuda itu. Ia tersenyum lebar.
“U..Utung. Dimana dia?”
putri terisak.
“Inilah aku...si Utung!”
katanya menunjuk dirinya.
“Aa..apa? Man..mana mungkin,”
putri tergagap dan semakin bingung.
“Hei pemuda tampan. Jangan main-main. Sebaiknya kau keluar dari lapangan ini. Aku akan segera menghukum pancung Purbasari karena dia telah kalah dalam perlombaan ini!”
teriak putri Purbararang. Pemuda itu tetap berdiri gagah di tengah lapangan, melindungi putri Purbasari dari jangkauan putri Purbararang.
“Baiklah aku perkenalkan diriku!”
katanya.
“Namaku Guru Minda. Saya adalah seorang dewa yang sedang dihukum dan diperintahkan untuk turun ke bumi. Kutukan itu akan luntur jika ada seorang gadis yang benar-benar tulus menerimaku sebagai pasangan sejatinya.”
Guru Minda berpaling kepada rakyat yang masih terpana memandangnya.
“Nah sekarang pilihlah siapakah yang lebih tampan dan gagah. Apakah pangeran Indrajaya atau aku?”
Serentak rakyat menyerukan namanya dan menunjuknya. Artinya putri Purbasari memenangkan ketiga lomba tersebut. Putri Purbararang kalah. Rakyat berseru-seru meminta putri Purbararang dihukum pancung. Putri Purbararang terduduk lemas. Ia menangis menyesali kesombongannya. Disadarinya saat ia benar-benar tersudut, tak ada seorang pun yang sudi menolongnya. Benarkah? Ternyata tidak. Putri Purbasari berlutu di hadapannya dan memeluknya erat.
“Aku tidak akan menghukum kakakku sendiri. Kakak boleh tetap menjadi ratu asalkan kakak berjanji akan memimpin rakyat dengan sebaik-baiknya,”
ucapnya lembut. Putri Purbararang begitu tersentuh dengan kebaikan hati adiknya.
“Kau memang sangat baik hati. Setelah semua kejahatan yang aku lakukan, kau dengan mudah memaafkanku. Kaulah yang seharusnya menjadi ratu. Aku Sekarang sadar mahkota ini lebih pantas berada di kepalamu. Maafkan aku!”
Istana begitu gemerlap hari itu. Penobatan ratu baru berlangsung meriah namun khidmat. Hari itu juga dilangsungkan pernikahan putri Purbasari dan Guru Minda. Semua senang, semua bahagia. Dan kisah ini pun berakhir bahagia.

Source : http://alisyaza.blogspot.com/

Sabtu, 01 Juni 2013

Asal Usul sungai Landak(KALBAR)

Drama Humor Cerita Rakyat
Untuk 4 orang.
Dahulu kala, hidup seorang petani bersama isterinya. 
Walaupun tidak kaya, mereka suka menolong orang lain. orang yang tidak minta tolong pun ditolongin.


(Terlihat nenek bungkuk sedang membawa karung beras)

Suami : "sini nek, biar kami angkat"

Nenek : "Tidak usah, nenek bisa"

istri : "iya, nek biar suami saya yang bantu in nenek"

Nenek : "gak usah nenek bisa"

suami : "aah, gak perlu sungkan nek. sini..."

(Ia pun mengambil karung tersebut secara paksa dari si nenek. tapi nenek tak mau   melepaskannya)

Suami : "sini nek"
nenek : "Tidak!"

Suami : "sini nek"
nenek : "Tidak!"
Suami : "sini nek"
nenek : "Tidak!"
Suami : "sini nek"
nenek : "Tidak!"
Lalu Buaaarrr, karung beras itu pun pecah.
Nenek : "Kurang AJAR...!!!"

Nenek marah lalu mengambil tongkat dan mengejar sepasang suami istri tersebut dengan Gagah berani tanpa terbungkuk lagi. LoL

Pada malam harinya, petani sedang duduk di tempat tidur. Di sampingnya, isterinya sudah terlelap karena kecapek'an di kejar nenek-nenek. 

Tiba-tiba,
Suami : "Buset, Apa an Thoo?(dengan nada super lebay) keluar dari kepala istri gue?. Jangan2 kalo gue ikutin gue bisa dapet bini baru. Ikutin aah.."
yang di ikutin atau bahasa kerennya follow oleh sang petani tersebut adalah kelabang putih.  (Kelabang bisa dibuat dari kertas yang di ikat dengan kayu)
Petani itu mengikutinya hingga tiba di sebuah kolam tak jauh dari rumah mereka. Kelabang itu lalu menghilang. Petani lalu berjalan pulang. Isterinya masih ngorok seperti babi hutan.

Esok paginya, isteri petani menceritakan mimpinya semalam. 
Istri :“Aku sedang berjalan di padang rumput, dan ada sebuah danau di sana. Aku melihat seekor landak raksasa di dalam danau itu. Ia melotot kepadaku, aku pun tersipu malu maka aku lari"
Suami : "mengapa kau lari?"

istri :" Aku takut cinta kita menjadi segitiga gara2 landak itu”

Suami :" Ha?" dgn wajah bingung


Petani itu lalu pergi lagi ke kolam. 
"wah, apa tu berkilau-kilau, ambil aah... siapa tau ini Lampunya aladin yang bisa mengabulkan permintaan, Gue kan pengen nambah istri baru kayak Eyang subur"
Ia mengambilnya, ternyata sebuah patung landak dari emas. Patung itu sangat indah, matanya dari berlian. Petani membawanya pulang.


Malam harinya, petani didatangi seekor landak raksasa dalam mimpinya. “Ijinkan aku tinggal di rumahmu. untuk biayanya, aku akan memberikan apa saja yang kau minta asal jangan istri baru”


"Waduh, Mati aku.."

"mau nggak nih?"

"ow ya deh.. mau-mau, Jadi gimana cara kamu  memberikan apa yang aku mau"

"Gini caranya, Elus-elus patung landak lalu ucapkan mantra ini untuk meminta sesuatu 'Makan cucur sore-sore... Ancoree'"
"ow gtu caranya. Gampil...gampil..gampil..gampil"(kayak di sketsa)

"dan Jangan lupa untuk menghentikan permintaan tersebut dengan mengucapkan mantra yang lain lagi"

"Apa mantranya Landak?"

"gini nih 'Cong..Cong..cong Kopi panjong...tak Beduet kopi di pancong"
"Ow gtu landak, baiklah... saye bangun dari tidur lok yeh"

Petani menceritakan mimpinya kepada isterinya.

"sayang, tadi malam abg mimpi sesuatu?"

"Mimpi ape bang? mimpi kaye? mimpi jadi justin bieber? oow atau Mimpi basah ye?"

"Iii, adek ni... Bukan-bukan"

"Teros mimpi ape yak bang?"

"Mimpi bertemu dengan landak yang baik hati yang mau mengabulkan segala permintaan"
"Benar lah bang? nak merampot yak abang ni"
"Mak? tak cayak... mari lah kite buktikan saje" 
 Mereka ingin membuktikan mimpi itu. Petani mengusap kepala patung dan mengucapkan kalimat permintaan. 
"Makan Cucur Sore2 ancore"(Boleh diganti dengan mantra loe sendiri)"Saya minta beras"
Seketika dari mulut patung keluarlah beras! Beras itu terus mengalir keluar hingga banyak sekali. Petani segera mengucapkan kalimat kedua
"Cong..cong..cong kopi panjong"
 dan beras berhenti keluar dari mulut patung landak.
Suami :"Tu kan bener, sayang berfungsi"
Istri :"wah, Alhamdulilah yah, SiswanTok"
Suami :"Saya minta Pintu kemana saja"
Istri :"haha, Emang loe kira Dora Emon"

Patung pun diam saja ketika petani berkata seperti itu.
Istri :"saya minta suami baru"
suami :"haha, Gak bisa sayang. Aku hanya untuk mu"
Setelah banyak minta yang gak masuk akal
Mereka berdua kemudian meminta berbagai benda yang mereka butuhkan. Mereka menjadi sangat kaya. Namun mereka tetap tidak sombong dan makin gemar menolong. Banyak orang datang untuk meminta tolong, Termasuk nenek-nenek yang berasnya di tumpahin pasangan suami istri tersebut.
Suami : wah, nenek...Butuh bantuan apa?"

Nenek :"Saya butuh beras, semenjak beras yang waktu itu kamu pecahin saya gak pernah makan lagi"
Suami :"Ha?..(terkejut sambil memegang kening nenek tersebut) Oww, Demam"

petani tersebut pun memberikan beras kepada nenek itu.

Seorang pencuri mengetahui rahasia patung landak. Ia berpura-pura minta tolong dan mencuri patung itu. Pencuri membawa patung itu pulang. Desanya sedang dilanda kekeringan.
 Pencuri: "Saudara-saudara, saya bisa mendatangkan Air untuk kalian sebagai balasan atas kebaikan saya. saya minta Jubaidah anak Pak Mas Ub di nikahkan ke saya" 

Pencuri memohon air sambil mengusap kepala patung dan mengucapkan kalimat permintaan. Air keluar dari mulut patung. Penduduk desa itu sangat senang. Tak lama kemudian, air yang keluar sudah mencukupi kebutuhan penduduk desa, namun terus mengalir sehingga terjadi banjir. Pencuri itu tidak tahu bagaimana menghentikan air yang keluar dari patung. Penduduk desa lari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.


Pencuri juga ingin menyelamatkan diri, namun tidak bisa menggerakkan kakinya. Ia melihat seekor landak raksasa memegangi kakinya. Akhirnya ia tenggelam dalam air yang makin lama makin tinggi. Air itu kemudian membentuk sungai yang disebut sungai Landak.
Sungai Landak berselimut kabut pagi.
Tulisan ini tak selesai saya Edit... Untuk Seterusnya saya serahkan pada anda.

and Jika tulisan di Copas ke blog tolong sertakan Link Blog ini

BE Creative......!!!

Minggu, 12 Februari 2012

MALIN KUNDANG


Cerita Rakyat Sumatera Barat

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang.
Ayah malin      :”ayah ingin mengubah nasib kita jadi ayah ingin pergi keluar kampong untuk cari kerja”
Ibu malin         :”tidak ayah. Ibu tidak mau jauh dari ayah”
Ayah               :”kenapa..?”
Ibu                   :”karena ibu cintaaaaa banget same ayah”
Ayah               :”aah bohong, kalo ibu cinta dengan ayah kenapa ibu seingkuh”
Ibu                   :”itu karena ayah miskin kalo selingkuhan ibu, udah ganteng, kaya lagi… :p”
Ayah               :”huh, justru karna itu ayah ingin pergi dan menjadi kaya raya seperti yang ibu ingin”
Ibu                   :”ya udah pergi sana(nada mengusir)”
Malin               :”ayaaaahh…”(menangis sambil menarik ingus).

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak
yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari.
Malin               :”sudah 3 kali lebaran dan 3 kali bulan ramadhan kenapa ayah tak pulang-pulang..?”
Ibu                   :”mungkin dia kawin lagi”
Malin               ;”hus, ibu ini sinis banget si sama ayah. Dia tu suami ibu juga”
Ibu                   :”oo iya yah…heheh”
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang
dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang
kaya raya.
Malin               :”ibu, malin pergi dulu yah, ibu jaga diri baik-baik jangan lupa mandi dan sikat gigi, kalo’ ibu mau kawin lagi jgn lupa kirim kabar yah lewat Facebook jak yah.
Ibu                   :”oke deh nak…good bye see you”
Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal
dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah
kapal yang sudah berpengalaman.
Malin               :”what is it, Bro..?”(menunjuk ke lantai)
Jimmy              :”iki lantai..”
Malin               :”kalau yang ini..?”(menunjuk kursi)
Jimmy              :”Ini Kursiiii(teriaknya).eh malin..ini apa ..?(menunjuk dengkul malin)
Malin               :”ini dengkul mas Jimmy” (dgn yakin)
Jimmy              :”Bukan … itu otak mu Bahlol”
Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman
Temannya termasuk mas jimmy yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam
hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba
kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut Jack Sparrow.
Jack Sparrow   :”I am Jack Sparrow”(puter musiknya teng deng de deng) Rampas semua harta mereka terus bunuh mereka dan jiwanya di berikan kepada Flying Dutchman.
Kok  ceritanya jadi kayak the piretes ni..?lanjut ajja deh
. Malin Kundang sangat
beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin
segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya
terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke
desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut.
Sa odah           :“ wah siapa tui..? ayo kita tolong dia “(melihat malin terkuntai-kuntai).
Markonah        :”tidak… aku gak kenal dia..jadi untuk apa aku menolong dia..?”
Sa odah           ;”untuk dapat pahala dari tuhan”
Markonah        :”pahala untuk apa..?”
Sa odah           :”untuk masuk surga”
Markonah        :”surg..”belum selesai markonah bicara sa odah sudah berlari menuju malin dan berkata
Sa odah           :”pria itu tampan” menghampiri malin dan membawa malin kerumahnya untuk istirahat dan makan.
Sa odah           :”apa yang terjadi pada mu..?”
Malin               :”kapal saya di bajak dan saya terdampar disini.
 Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya
dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki
banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi
kaya raya,
 Malin Kundang:” kamu tau nggak hal yang terindah dalam hidup ini?”
Sa odah           :”bisa membahagiakan org tua,iyakan?”
Malin               :”memang benar tetapi bagi aku hal yang terindah dalam hidup ini adalah bisa menikah dengan mu”
Sa odah           :”oo so sweet”
Malin               :”jadi mau kah kau menikah dgn ku..?”
Sa odah           :” yaa aku mau…”
Kalian ingat dengan markonah..?ya kalo masi ingat baguslah ,mendengar malin kundang and sa
odah mau menikah markonah bunuh diri.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang
besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang
yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan.
Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang
berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya
melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati
adalah Malin Kundang.
Ibu malin         : "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa
mengirimkan kabar?", (memeluk Malin Kundang). Tetapi Kundang segera
melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
Malin Kundang :"Wanita tak tahu diri,sembarangan saja mengaku sebagai ibuku".
 Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua,kurapan,banyak kudis dan baju compang-camping.
Sa odah(istri mlin:"Wanita itu ibumu?",
Malin               :. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku",
. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu
Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena
kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh
Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama
kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin
Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya
berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Jumat, 10 Februari 2012

Timun Mas


Cerita Rakyat Jawa Tengah
 

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.

suami   :”ya tuhan beri lah hamba mu ini seorang anak jika tidak ya sudah lah”(Setiap hari) .. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.
Raksasa           :”hey, kamu mau punya anak..?”
suami               :”yam mau..mau mauuu bangeeet.”
Raksasa           :“Kalo gtu tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,”
Suami              :“Terima kasih, Raksasa,”
.Raksasa          : “Tapi ada syaratnya. Kamu followback twitter aku dulu yah dan Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,”
.istri                 :”ya aku setuju-setuju..”
Suami              :”tapi ma..?”
istri                  :”ahh papa diem ajja apa si susah nya Follow twitter raksasa..?
suami               :”susah tu..papa kan gax ada pulsaaa(iklan Telkomsel)..”
istri                  ;”aah gax peduli pokoke akoke maoe anake”

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin.
istri                  :”pa..pa..ayo kesini !”
suami               :”ada apa ma..?papa lagi sibuk online nih”
istri                  :”iisstt,Offline dulu donk penting nii h !”
suami               :”huuh, padahal lagi asik chatingan ama putri imut beh… :’( “
istri                  :”iii papa nih”
(suami keluar dari kamarnya)
suami               :”wah..mentimun apa’an nih..?”(mulut ternganga dan mengeluarkan liur)
istri                  ;”anehkan pa..?
Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu.
Suami              :”innalilahi roji’un”
istri                  :”astagfirullah kali pa”
suami               :”ya itu dia maksud papa”
istri                  :”hmm, alhamdulilah ternyata benar apa yang dikatakan raksasa itu”
Suami              :”iya bener,hehe emg raksasa apa..?”(Muke bodo).
Istri                  :”hah,mati yak lah pak’e”
suami               :”hehe, ya udh lh gax usah di bahas yang penting skrang kita punya anak”
Istri-suami       :”kita punya anak..kita punya anak..kita punya anak”(berjoget)
Suami              :”eh wait,,wait ,,wait kita belum kasi anak ini nama”
istri                  :”mama puny aide bagaimana kalo’ kite beri nama anak kita Timun mas”
suami               :”karena dia lahir dari timun bukan P*Pe*” sakin senang nya mereka mengundang dangdut keliling untuk merayakannya.
Tahun demi tahun berlalu.sekarang umur Timun Mas 9 tahun dan dia sedang bermain.
kelompok 1     :”saya orang miskin”
klmpok 2 (timun):”saya orang kaya”
kelompok 1     :”saya minta anak !”
kelompok 2     :”namanya siapa..?”
kelompok 1     :”namanya Marfu’ah”

Bertahun-tahun kemudian ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu takut tapi dia mencoba tenang
suami               : “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang Pacaran. Istriku akan memanggilnya,”
Pcr timun mas :”yang manis di dunia ini Cuma ada 3”
timun mas        :”apa aja tu mas..?”
pcr                   :”madu,gula,dan kamu”
timun mas        :”oow so sweat”
 istri                 :“Anakkku,(mak datang dari jauh)
timus mas        :”ngape mak..?”
istri                  :” timun ambillah ini,”(sambil menyerahkan sebuah kantung kresek). “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,”
timus mas        :”ha ..?raksasa?hari gene..?”
istri                  :”beneran nak..”
karena tak mau jadi durhaka kepada ibu seperti malin kundang Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa.
Raksasa           :”haduuh, lama bener anak mu pacaran aku sudah nggx sabar nih”
Suami              :”sabar sebentar abang raksasa, mkan pisang goreng dulu yah”
Raksasa           :”tidaak ! aku tak makan pisang goreng tapi aku makan timun mas panggang di tambah sambel mmm enak tuh”(mengeluarkan lidahnya).
Suami(petani)  :”ha..?”takut sambil menelan air liur)
Raksasa           :”aahhh kelama’an pasti kalian menipu ku…ku hancur kan pondok ini hiya..hiya”  

Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat.
Timun Mas      :”aduh gimana ni..? oo iya ini bisa di gunakan”(mengambil segenggam garam . Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya.
Timun Mas :”yaa ampun cepat banget ni raksasa ,aku harus kembali mengambil benda ajaib dari kantungku. Raksasa Rasakan ini cabai Indofood..!!” Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa.
 Raksasa          :”aw..aw..aw(AW rumah mkan) berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.

Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.

Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.